Kisah Romantis Cinta yang Sesungguhnya

kisah-romantis-cinta-yang-sesungguhnya

Kisah Romantis Cinta yang Sesungguhnya – Penerimaan rapor semester 1 sudah usai. Seluruh siswa pun sudah pulang bersama orangtua masing masing. Namun, tidak untuk semua siswa kelas XI IPA 2. Kami masih ribut bersama rencana liburan bersama satu kelas. Satu satu dari kami membangkitkan gagasan daerah dan membawa dampak keadaan jadi jadi ribut. Hingga satu gagasan yang terlalu menarik keluar dari salah satu murid laki laki.

Kisah Romantis Cinta yang Sesungguhnya

kisah-romantis-cinta-yang-sesungguhnya

“Gimana kami camping di suatu daerah deket desa yang kembali booming sekarang. Desa itu letaknya agak jauh dari kota kita. Desa yang tersedia daerah camping itu terlalu menarik gara-gara siapa saja yang kesana dapat bingung. Jalan menuju daerah camping itu membingungkan gara-gara banyak perempatan dan kalau salah memilih jalur bakalan nyasar dan gak dapat sampai daerah camping,” ucap seorang siswa laki laki yang tak lain adalah Ridho.
“Lo sungguh-sungguh Dho?” tanyaku tak yakin.
“Serius Salsa, dan cara paling asik membuat kesana adalah bersepeda,” jawab Ridho.

Akhirnya, sebagian sepakat bersama usul Ridho. Yaps, judibolalive99 hanya sebagian anak yang berarti hanya 20 orang. Kami dapat bersepeda secara berpasangan perempuan laki laki bersama cara mengambil alih lintingan. Bagi perempuan dan laki laki yang mendapat nomer sama, berarti mereka dapat berboncengan. Aku menghendaki sanggup bersama Afrian, orang yang selama ini aku cintai diam diam. Tetapi, ternyata takdir tak berpihak padaku kali ini gara-gara Afrian berpasangan bersama Afika, orang yang membawa dampak aku cemburu gara-gara senantiasa mendekati Afrian. Semua pun sudah berpasangan dan pasangan yang dihasilkan adalah Afrian-Afika, Sendi-Tania, Farel-Sofi, Ridho-Salsa, Gilang-Danita, Mario-Adela, Latif-Desy, Satria-Amira, Andi-Imel, Fella-Fandi. Itulah pasangan yang dihasilkan dari lintingan. Sebenarnya aku dan Afika layaknya tukeran pasangan gara-gara Ridho itu suka Afika dan Aku suka Afrian.
“Gini, besok kami hanya perlu baju ganti aja. Semua kepentingan camping sudah disiapkan serupa pihak sana,” ucap Ridho.
“Oke,” ucap semua serentak.

Hari bergeser bersama cepat dan hari ini aku berangkat terlalu pagi untuk camping. Saat keluar rumah, semua sudah menunggu di depan rumahku. Semua Mengenakan sepeda gunung yang sudah diberi boncengan pada bagian belakang. Aku pun berjalan ke arah Ridho setelah berpamitan bersama mamaku.
“Cepet naik Sal,” suruh Ridho.
Aku pun segera naik dan melingkarkan tanganku di pinggang Ridho.
“Aduh, kok jantung gue jadi dag dig dug gini sih. Perasaan kala gue deket Afika yang gue suka gak se dag dig dug gini deh,” batin Ridho.

“Woy, cepet jalur Idho. Yang lain sudah jalur tuh,” suruhku.
Ridho segera mengayuh sepedanya menyusul pasangan lain yang sudah jalur duluan. Sepanjang jalan, aku hanya menyaksikan Afrian dan Afika yang sepertinya suka sekali sanggup berpasangan. Sungguh, sakit banget yang aku rasakan menyaksikan Afrian suka bersama Afika.

“Sal, lo diem aja dari tadi. Biasanya aja di kelas lo paling berisik. Lo sakit?” bertanya Ridho.
“Gak kok Dho, hanya males ngomong aja,” jawabku.
“Hmm, tentu lo males ngomong gara-gara menyaksikan Afrian serupa Afika,” ucapnya.
“Gak lah Dho,” ucapku.
“Gue juga sebel tuh menyaksikan dia serupa Afrian. Lo tau sendiri gue suka serupa Afika dan sudah berkali kali deketin bahkan nembak namun tetep ditolak,” ucapnya.
“Yang sabar aja mas bro, mungkin dia bukan jodoh lo,” ucapku.
“Haha… iya Sal,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Sungguh, setelah aku 1/2 jalur bersama Ridho aku terasa tersedia perihal yang beda. Ridho yang kukenal brutal dan kasar ternyata sosok yang terlalu enak diajak mengobrol. Aku justru lebih terasa nyaman di dekat Ridho daripada di dekat Afrian. Aku jadi mempererat lingkaran tanganku di pinggang Ridho dan itu membawa dampak Ridho jadi gugup mengendarai sepeda. Saat sudah dekat bersama daerah camping, aku merasakan sakit di perutku dan membawa dampak Ridho khawatir.

“Lo kesakitan kenapa Sal?” bertanya Ridho.
“Perut gue sakit Dho, kayaknya maag gue kambuh deh,” jawabku.
Tiba tiba Ridho menghentikan sepedanya dan menyuruhku turun. Aku pun turun dari sepeda dan Ridho menuntunku ke sebuah kursi di dekat daerah situ.

“Kamu makan pernah deh, baru kami lanjut jalan,” ucapnya lalu mengelus elus pucuk kepalaku.
Deg…
Jantungku serasa sudi copot kala dia mengelus elus pucuk kepalaku. Aku tak pernah merasakan layaknya ini bahkan kala di dekat Afrian, orang yang aku suka. Hatiku lantas bertanya, apa berarti ini? Apakah aku justru mencintai Ridho? Sosok yang aku anggap paling brutal di kelas. Dia sungguh berbeda dari biasanya. Sosok yang kasar dan brutal sekarang jadi perhatian dan lembut di depanku.

“Udah Dho, aku sudah gak sakit,” ucapku.
“Ya udah, kami lanjut jalur sekarang,” ucapnya.
Akhirnya kami berdua lanjut berjalan untuk menyusul yang lain.

Hingga malam tiba, kami berdua tak kunjung sampai. Kami kebingungan kudu kemana kembali gara-gara jalur sepenuhnya sudah sepi dan hanya lampu jalur yang menyapa. Yang lebih membawa dampak kami bingung adalah kami dihadang perempatan yang sana sini gelap. Saat mengayuh sepeda bersama mengambil alih jalur lurus, tersedia kira kira 10 preman yang menghadang kami. Preman itu tiba tiba menghajar Ridho sampai Ridho tak berdaya. Preman itu mencoba mendekatiku dan berusaha berbuat macam macam. Preman itu menamparku berkali kali untuk membawa dampak tenagaku habis agar mereka leluasa berbagai macam denganku. Ridho yang sudah terkulai lemas berusaha bangkit untuk menyelamatkanku. Aku hanya sanggup menangis kekhawatiran menyaksikan muka preman itu. Ridho memukul preman itu bersama balok kayu dan berhasil membawa dampak preman itu pergi.

“Dho, gue takut,” aku memeluk erat tubuhnya dan menangis sejadinya.
Aku merasakan detak jantung Ridho terlalu kencang. Aku mengabsikan detakan jantung itu dan senantiasa memeluk erat tubuh bidangnya.
“Udah udah, jangan nangis lagi. Mereka sudah pergi, lagian gue gak dapat biarin kamu diapa apain serupa preman itu,” ucapnya yang membalas pelukanku.
Aku membebaskan pelukannya dan menghapus air mataku.
“Ya udah, kami pergi dari sini. Takutnya tersedia preman lagi,” ucapnya lalu merangkulku.

Kami pergi bersama meninggalkan daerah itu dan melacak daerah yang aman. Kami juga melupakan sepeda yang kami bawa. Setelah mendapatkan daerah yang aman, kami beristirahat disitu.

“Kamu sudah gak bapak kan Sal?” tanyanya kuatir menyaksikan keadaanku yang lemas.
Kamu? Dia menanyakan bersama mengucapkan kamu. Kemana kata lo? Apakah dia juga terasa merasakan rasa yang serupa sepertiku? Banyak pertanyaan yang membayang di pikiranku dan membawa dampak aku melupakan pertanyaan Ridho.

“Sal, ko kamu diem aja sih. Aku kuatir serupa kamu, kamu gak bapak kan?” tanyanya lagi.
“Gak kok, hanya sudut bibirku yang berdarah,” jawabku bersama lirih.
“Aku obatin,” ucapnya lalu mengambil alih kotak P3K di tasnya.

Dia terasa mengobatiku bersama hati hati dan penuh perasaan. Mata kami berjumpa dan kami saling menatap. Tatapan bola matanya yang hitam membawa dampak hatiku tak karuan. Aku terasa terasa lupa dapat perasaanku pada Afrian dan terasa terasa cinta pada Ridho. Sosok yang sungguh perhatian dan lembut membawa dampak aku nyaman di dekat Ridho.

“Udah selesai Sal, mending lo istirahat,” ucapnya.
“Dho,” panggilku memecah keheningan.
“Ada apa Sal?” tanyanya.
“Aku gak nyangka, cowok brutal dan kasar kayak kamu sanggup seperhatian dan selembut ini,” jawabku.
Ia terkekeh kecil mendengar ucapanku tadi.
“Aku juga gak nyangka tuh, cewek cerewet kayak kamu sanggup banyak diem selama perjalanan dan yang lebih aku heran lagi, cewek pemberani kayak kamu sanggup nangis gara gara preman,” ucapnya.
“Ih, apaan sih Dho,” ucapku lalu memukul pelan lengannya.
“Aku sanggup lembut dan perhatian juga gara-gara kamu kok,” ucapnya yang membuatku kaget.
“Maksud-,” ucapanku terpotong dikala jari telunjuknya mendarat halus di bibirku.
“Udah, kamu tidur aja. Aku juga sudi tidur, sudah capek,” ucapnya.
Aku menyenderkan kepalaku di bahu Ridho. Kami akhirnya terlelap tidur di depan tempat tinggal tua kosong bersama saling berharap satu serupa lain.

Mentari kembali memberi salam dankami berdua pun bangun. Kami segera menggendong tas untuk melacak daerah camping.
“Woyyy, Ridho Salsa,” teriakan seseorang yang tak asing bagi kami, yaps itu suara Sendi.
“Sendi..,” teriaku suka gara-gara mendapatkan titik terang.
Sendi mengayuh sepeda mendekati kami berdua.
“Akhirnya, lo berdua ketemu juga. Kita pergi ke daerah camping sekarang yuk, yang lain sudah pada nunggu tuh,” ucap Sendi.
“Iya, kami nyasar bro. Maafin sudah membuat nunggu,” ucap Ridho.
“Kalian kenapa, kok babak belur gitu?” bertanya Afrian yang bersama Sendi.
“Ceritanya panjang, nanti aja gue ceritain,” jawab Ridho.
Aku hanya diam menatap Ridho dan tak menyaksikan Afrian sedikitpun.

Kami pun pergi ke daerah camping tersebut.
Sampai di daerah camping aku segera bersih bersih diri dan duduk di dekat danau.

“Ehem,” deheman seseorang mengagetkanku.
Aku menoleh ke belakang dan ternyata orang itu adalah Ridho.
“Salsa, aku boleh jujur gak?” tanyanya sambil menatapku.
“Boleh lah, masa sudi jujur gak boleh,” jawabku.

“Aku baru sadar, kalau aku lebih cinta kamu daripada Afika. Setiap aku dekat kamu, tersedia rasa yang beda. Aku deg degan kala kamu melingkarkan tanganmu di pinggangku dan kala kamu peluk erat tubuhku. Aku juga cemas banget kala kamu sudi diapa apain serupa preman. Aku sadar, cintaku yang sebenarnya adalah kamu,” jelasnya.
Aku tersenyum ke arahnya bersama penuh rasa bahagia. Ternyata dia merasakan apa yang aku rasakan.

“Aku juga sudi jujur, aku terasa lebih nyaman di dekat kamu daripada di dekat Afrian. Perasaan yang selama ini gak dapet dari Afrian, aku dapet dari kamu Dho. Aku terasa jantungku serasa idamkan copot sewaktu kamu senantiasa kasih perhatian yang intens. Aku baru tahu kalau kamu cintaku yang sebenarnya Dho,” ucapku.

“Mmm, kamu sudi gak jadi pacar aku?” tanyanya.
Tak aku sangka, dia perlihatkan perasaannya dan idamkan menjadikan aku pacar.
“Gak sanggup Dho,” jawabku bersama muka datar.
“Gak sanggup nolak maksudku,” sambungku.
“Yes… makasih Sal,” ucapnya.
Aku hanya tersenyum dan menyenderkan kepalaku di bahunya. Aku sekarang suka sanggup merasakan cinta yang sesungguhnya, yang orangnya adalah Ridho. Andai tak tersedia rencana liburan, aku tentu tak sanggup mendapatkan cintaku yang sesungguhnya. So, Ridho is the best plus he is my really love.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *